Siang Kelaparan, Malam Kekenyangan
Ada ironi yang sering terlupa di balik ritual puasa.
Di siang hari, perut keroncongan, mulut kering, dan mata lelah menahan godaan. Tapi begitu azan maghrib berkumandang, seolah dunia berubah menjadi pesta. Piring-piring penuh, minuman manis mengalir, dan nafsu makan yang tadi ditahan tiba-tiba meledak tanpa kendali.
Puasa Bukan Sekadar Menunda Makan
Puasa seharusnya mengajarkan kesederhanaan, empati pada yang lapar, dan pengendalian diri. Tapi apa jadinya jika siang hari kita "sakti" menahan lapar, tapi malamnya justru jadi raja yang melahap segalanya? Bukankah ini seperti memindahkan jam makan, bukan mengubah cara kita menghargai rezeki?
Malam Hari: Balas Dendam atau Bersyukur?
Ada yang berbuka dengan kurma dan air putih, lalu shalat maghrib sebelum makan secukupnya. Tapi tak sedikit yang langsung "menyerbu" meja makan bak pertarungan akhir: gorengan bertumpuk, es campur berliter-liter, dan daging-daging berlemak seolah jadi target balas dendam. Perut yang kosong seharian dipaksa menampung makanan berlebihan, hingga akhirnya begah, mengeluh, bahkan lupa untuk bersyukur.
Kekenyangan Membuat Hati Lapar
Di malam hari, tubuh mungkin kenyang, tapi hati kerap tetap kosong. Puasa yang seharusnya melatih kepekaan jiwa justru berakhir jadi rutinitas fisik belaka. Kita lupa bahwa lapar bukan hanya soal perut, tapi juga tentang mengosongkan diri dari keserakahan. Kekenyangan di malam hari malah bisa menjadi simbol keserakahan yang terselubung: "Aku sudah menderita siang tadi, sekarang aku berhak makan sebanyak-banyaknya!"
Puasa Mengajarkan Keseimbangan
Rasulullah SAW bersabda: "Cukuplah bagi manusia beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus dipaksakan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas." (HR. Tirmidzi).
Pesannya jelas: jangan berlebihan. Puasa seharusnya mengajari kita untuk hidup proporsional, bukan terjebak dalam dua kutub ekstrem: kelaparan palsu di siang hari dan kerakusan di malam hari.
Refleksi: Puasa untuk Siapa?
Jika puasa hanya jadi alasan untuk "balas dendam" pada makanan, lalu apa bedanya kita dengan orang yang tidak berpuasa? Justru di situlah ujian sebenarnya: bisakah kita tetap sederhana, meski telah diizinkan untuk makan? Bisakah rasa lapar mengingatkan kita pada mereka yang tak punya pilihan untuk berbuka dengan hidangan mewah?
Mungkin inilah makna puasa yang sesungguhnya: bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menjinakkan nafsu yang selalu ingin lebih. Sebab, perut yang kenyang belum tentu memuaskan jiwa. Tapi jiwa yang kenyang dengan rasa syukur, akan selalu cukup, baik di siang maupun malam hari.
"Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31).
Janganlah puasa hanya memindahkan rasa lapar ke dalam hati.
Posting Komentar