Wasatiah

Surat ke-70

Al-Ma'arij · Ayat 44

Ayat 44

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ

Khāsyi‘atan abṣāruhum tarhaquhum żillah(tun), żālikal-yaumul-lażī kānū yū‘adūn(a).

Artinya

dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.

Tafsir Ayat
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI

Mereka bergegas dan pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka yang dahulu ketika di dunia selalu mereka olok-olokkan bahkan mereka meminta disege-rakan.

Tafsir Ibnu Katsir

Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

Maka biarkanlah mereka. (Al-Ma'arij: 42)

Yaitu biarkanlah mereka, hai Muhammad.

tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main. (Al-Ma'arij: 42)

Maksudnya, biarkanlah mereka dalam kedustaan, kekafiran, dan keingkarannya.

sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 42)

Yakni kelak mereka akan mengetahui akibat dari perbuatannya dan akan merasakan buah dari sepak terjangnya.

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).(Al-Ma'arij:43)

Yaitu mereka bangkit dari kuburnya masing-masing, apabila Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memanggil mereka untuk menjalani hisab di mauqif (tempat pemberhentian). Mereka bangkit dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala sembahannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna nusuh ialah 'alam alias berhala-berhala. Abul Aliyah dan Yahya ibnu Abu Kasir mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebagaimana mereka pergi dengan segera ke tujuannya.

Jumhur ulama ada yang membacanya nasbin yang bermakna mansub, artinya berhala yang dipancangkan. Sedangkan Al-Hasan AL-Basri membacanya nusub yang artinya berhala sembahan mereka. Seakan-akan langkah mereka yang cepat menuju ke mauqif sama dengan langkah mereka saat di dunia bila menuju ke tempat sembahan-sembahan mereka, mereka pergi bergegas untuk mencapainya, siapa yang paling dahulu dari mereka yang mengusapnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Yahya ibnu Abu Kasir, Muslim Al-Batin, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Anas, Abu Saleh, Asim ibnu Bahdalah, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya.

Firman Allah Swt.:

dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya. (Al-Ma'arij: 44)

Yakni menundukkan pandangan mata mereka.

(serta) diliputi kehinaan. (Al-Ma'arij: 44)

Hal ini sebagai pembalasan atas kesombongan mereka sewaktu di dunia, karena mereka tidak mau taat kepada Allah Swt.

Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 44)

Tafsir as-Sa'di

"Maka Aku bersumpah dengan Rabb Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguh-nya Kami benar-benar Mahakuasa untuk mengganti (mereka) de-ngan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka. (Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera ke-pada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka." (Al-Ma'arij: 40-44).
(40-41) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan arah timur (tempat terbit) dan barat (tempat terbenam) bagi matahari, bulan dan bintang, karena padanya terdapat tanda-tanda nyata atas pas-tinya Hari Kebangkitan serta kekuasaan Allah سبحانه وتعالى untuk mengganti orang-orang seperti mereka, padahal mereka menyaksikan sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,
﴾ وَنُنشِئَكُمۡ فِي مَا لَا تَعۡلَمُونَ 61 ﴿
"Dan Kami menciptakan kalian pada apa yang tidak kalian ketahui." (Al-Waqi'ah: 31).
﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمَسۡبُوقِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan," yakni, tidak ada seorang pun yang mengalahkan Kami dan melemahkan Kami jika Kami ingin mengembalikannya.
(42) Bila Hari Kebangkitan dan pembalasan telah tegas tapi mereka tetap mendustakan dan tidak tunduk pada tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَذَرۡهُمۡ يَخُوضُواْ وَيَلۡعَبُواْ ﴿ "maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main," yaitu tenggelam dalam perka-taan batil dan keyakinan-keyakinan rusak, bermain-main dengan dunia mereka; makan, minum, serta bersenang-senang, ﴾ حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِي يُوعَدُونَ ﴿ "sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka," Allah سبحانه وتعالى telah menyediakan siksa bagi mereka, yang meru-pakan akibat dari tenggelamnya mereka dalam kesenangan serta sikap main-main mereka.
(43-44) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi manusia ketika mereka bertemu dengan hari yang dijanjikan, ﴾ يَوۡمَ يَخۡرُجُونَ مِنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ سِرَاعٗا ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat," yakni dari dalam kubur-kubur dengan bersegera memenuhi panggilan penyeru, ﴾ كَأَنَّهُمۡ إِلَىٰ نُصُبٖ يُوفِضُونَ ﴿ "seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia)," yakni seolah-olah mereka pergi menuju tanda yang menggiring mereka, mereka tidak kuasa membangkang penyeru dan menyimpang dari ajakan penyeru, me-reka tunduk dan dipaksa untuk berdiri di hadapan Rabb semesta alam, ﴾ خَٰشِعَةً أَبۡصَٰرُهُمۡ تَرۡهَقُهُمۡ ذِلَّةٞۚ ﴿ "dalam keadaan mereka menekurkan pandang-annya (serta) diliputi kehinaan," karena kehinaan dan keresahan telah menguasai hati mereka dan bersemayam dalam benak mereka. Pandangan merasa takut dan tidak ada gerakan, serta terputuslah suara. Inilah kondisi dan akibat yang merupakan hari mereka itu nanti, ﴾ ٱلَّذِي كَانُواْ يُوعَدُونَ ﴿ "yang dahulunya diancamkan kepada mereka," dan janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan dipenuhi.
Selesai tafsir Surat al-Ma'arij. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.