Surat ke-55
Ar-Rahman · Ayat 16
Ayat 16فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI
Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Tafsir Ibnu Katsir
Firman Allah Swt.:
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 16)
Tafsirnya sama dengan yang sebelumnya.
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar-Rahman: 17)
Yakni kedua tempat terbitnya matahari di musim panas dan musim dingin, kedua tempat terbenamnya matahari di musim panas dan musim dingin. Dan dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari. (Al-Ma'arij: 40)
Demikian itu karena berbeda-bedanya tempat terbit mentari dan perpindahannya di setiap hari, di saat-saat kemunculannya kepada manusia. Dan dalam ayat yang lain disebutkan:
(Dialah) Tuhan masyriq dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzammil: 9)
Inilah makna yang dimaksud, yaitu berbagai derajat arah masyriq dan berbagai derajat arah magrib. Dan mengingat adanya perbedaan yang terjadi pada masyriq dan magrib ini mengandung kemaslahatan bagi makhluk, baik jin maupun manusianya, maka dalam firman selanjutnya disebutkan:
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 18)
Tafsir as-Sa'di
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembi-kar, Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman: 14-16).
(14) Ini merupakan nikmat-nikmat Allah تعالى yang Dia anu-gerahkan kepada para hambaNya, di mana Dia سبحانه وتعالى memperlihatkan kepada mereka di antara bukti KuasaNya dan keindahan ciptaan-Nya, dengan ﴾ خَلَقَ ﴿ "menciptakan" bapak moyang ﴾ ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "ma-nusia" yaitu Nabi Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ ﴿ "dari tanah kering seperti tembikar," maksudnya dari tanah basah yang telah Dia ko-kohkan sampai kering sehingga kemudian menjadi tanah yang memiliki kekeringan dan suara seperti suara tembikar, yaitu tanah yang terbakar.
(15) ﴾ وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dia menciptakan jin" maksudnya, bapak moyang jin, yaitu iblis –semoga Allah melaknatnya– ﴾ مِن مَّارِجٖ مِّن نَّارٖ ﴿ "dari nyala api," maksudnya, dari nyala api yang tulen, atau yang telah bercampur dengan asap. Ini menunjukkan kemuliaan unsur manusia yang diciptakan dari tanah yang merupakan tempat ke-mantapan, berat, dan sarat dengan manfaat. Berbeda halnya dengan unsur jin yaitu api yang merupakan keringanan (enteng), keburukan, dan kerusakan.
(16) Tatkala menjelaskan penciptaan jin dan manusia serta materi untuk menciptakannya, yang mana hal itu merupakan anu-gerah Allah تعالى atas mereka, Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴿ "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?"