Wasatiah

Surat ke-95

At-Tin · Ayat 8

Ayat 8

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ

Alaisallāhu bi'aḥkamil-ḥākimīn(a).

Artinya

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

Tafsir Ayat
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI

Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil? Jangan kaukira Allah menciptakan manusia secara sia-sia dengan tidak memberinya perintah dan larangan. Allah telah menurunkan aturan syariat. Dia akan memberi putusan dengan adil; memberi pahala kepada orang yang taat dan menghukum orang yang bersalah.

Tafsir Ibnu Katsir

Lihat tafsir ayat 1

Tafsir as-Sa'di

"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.