Surat ke-35
Fatir · Ayat 18
Ayat 18وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
Wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, wa in tad‘u muṡqalatun ilā ḥimlihā lā yuḥmal minhu syai'uw wa lau kāna żā qurbā, innamā tunżirul-lażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa aqāmuṣ-ṣalāh(ta), wa man tazakkā fa innamā yatazakkā linafsih(ī), wa ilallāhil-maṣīr(u).
Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI
Pada hari Kiamat setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil orang lain untuk membantu memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun yang ia panggil itu kaum kerabatnya, apalagi bila ia bukan kerabatnya (Lihat juga: ‘Abasa/80: 34–37). Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya sekalipun mereka tidak melihat-Nya atau ketika mereka sedang menyendiri, dan demikian pula mereka yang melaksanakan salat secara baik dan sempurna syarat dan rukunnya. Dan barang siapa menyucikan dirinya dari syirik dan maksiat dengan menjalankan salat dan takut kepada Allah, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali segala urusan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya.
Tafsir Ibnu Katsir
Adapun firman Allah Swt.:
Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Faathir':18)
Yaitu kelak di hari kiamat saat dilakukan perhitungan amal perbuatan.
Dan Jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosa itu. (Faathir':18)
Maksudnya, jika seorang yang banyak dosanya memanggil orang lain untuk sama-sama memikul dosa-dosanya yang berat agar menjadi ringan, atau untuk memikul sebagian dari dosa-dosanya,
tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun 'meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Faathir':18)
Yakni sekalipun yang dimintai pertolongannya itu adalah kerabatnya sendiri, dan sekalipun dia adalah ayah atau anaknya, masing-masing orang di hari sibuk dengan urusan dan keadaannya sendiri.
Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosa itu. (Faathir':18), hingga akhir ayat. Bahwa seseorang dipegangi tetangganya kelak di hari kiamat, lalu orang yang dipeganginya berkata, "Ya Tuhanku, tanyakanlah kepada orang ini mengapa dia menutup pintunya di hadapanku." Dan sesungguhnya orang kafir benar-benar bergantung kepada orang mukmin, lalu orang kafir berkata, "Hai orang mukmin, sesungguhnya aku mempunyai jasa kepadamu, engkau telah mengetahui bagaimana jasaku terhadap dirimu sewaktu di dunia, dan sekarang pada hari ini aku memerlukan pertolonganmu." Maka orang mukmin itu terus-menerus memohonkan syafaat bagi orang kafir itu di hadapan Tuhannya, tetapi pada akhirnya orang kafir itu dikembalikan ke tempat yang lebih rendah daripada tempat orang mukmin itu, yaitu di neraka. Dan sesungguhnya seorang ayah benar-benar bergantung kepada anaknya kelak di hari kiamat, lalu si ayah berkata, "Hai Anakku, siapakah diriku ini?" Lalu si anak memujinya dengan pujian yang baik. Si ayah berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya sekarang aku memerlukan kebaikanmu, walaupun hanya seberat biji sawi, agar aku dapat selamat dari azab seperti yang engkau lihat sekarang ini." Lalu si anak menjawabnya, "Wahai Ayahku, betapa mudahnya permintaanmu, tetapi saya merasa takut sebagaimana takut yang melanda dirimu. Maka aku tidak dapat memberikan sesuatu kebaikan pun kepadamu." Kemudian orang itu bergantung kepada istrinya dan mengatakan kepadanya, "Hai Istriku, siapakah aku ini? Lalu si wanita itu memujinya dengan pujian yang baik. Kemudian di lelaki berkata, "Sesungguhnya aku meminta suatu kebaikan darimu, sudilah engkau memberikannya kepadaku, barangkali saja dengan kebaikan itu aku dapat selamat dari penderitaanku seperti yang kamu lihat sendiri." Lalu si istri menjawab, "Betapa mudahnya permintaanmu, tetapi aku tidak mampu memberimu sesuatu apa pun, karena sesungguhnya aku pun sama merasa takut seperti ketakutan yang melanda dirimu." Allah Swt. berfirman:
Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosa itu. (Faathir':18), hingga akhir ayat.
seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. (Luqman:33)
Dan firman Allah Swt.:
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. ('Abasa: 34-37)
Ibnu Abu Hatim rahimahullah telah meriwayatkan dari Abu Abdullah Az-Zahrani, dari Hafs ibnu Umar, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah.
Kemudian Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan salat. (Faathir':18)
Yakni sesungguhnya yang mau menerima apa yang disampaikan olehmu hanyalah orang-orang yang mempunyai akal dan pandangan hati lagi takut kepada Tuhannya dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka.
Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. (Faathir':18)
Maksudnya, barang siapa yang beramal saleh, maka sesungguhnya manfaat dari amal salehnya itu kembali kepada dirinya sendiri.
Dan kepada Allah-lah kembali(mu). (Faathir':18)
Yaitu hanya kepada-Nyalah semua makhluk dikembalikan, Dia Mahacepat perhitungan-Nya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal perbuatannya masing-masing. Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik, dan jika amal perbuatannya buruk, maka balasannya buruk pula.
Tafsir as-Sa'di
"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab RabbNya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka men-dirikan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, se-sungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah semua akan kembali." (Fathir: 15-18).
(15) Allah سبحانه وتعالى mengalamatkan FirmanNya kepada seluruh manusia, memberitahu mereka tentang kondisi dan sifat mereka, dan sesungguhnya mereka adalah benar-benar butuh kepada Allah dari segala segi. Mereka butuh diciptakan; kalau saja bukan karena Allah menciptakan mereka, tentu mereka tidak ada. Mereka juga butuh untuk dibekali dengan kekuatan, dan anggota tubuh, yang kalau saja Allah tidak memberikannya kepada mereka, tentu me-reka tidak bisa melakukan suatu pekerjaan apa pun.
Mereka butuh untuk dibekali dengan makanan pokok, rizki, dan berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak; yang kalau saja bukan karena karunia, kebaikan, dan pemberian kemu-dahan segala urusan dariNya, maka tentu mereka tidak bisa mem-peroleh rizki dan kenikmatan sedikitpun.
Mereka juga butuh untuk dihindarkan dari berbagai bencana, dilepaskan dari segala hal yang tidak disukai, dijauhkan dari ber-bagai kesengsaraan dan penderitaan, yang kalau saja bukan karena pembelaan Allah terhadap mereka, yang melepaskan mereka dari berbagai penderitaan dan menghilangkan berbagai kesulitan me-reka, tentu saja berbagai hal yang tidak disukai dan berbagai pen-deritaan tetap menimpa mereka.
Mereka juga butuh kepadaNya untuk dibimbing dengan berbagai bentuk bimbingan dan berbagai jenis pengaturan.
Mereka sangat butuh kepadaNya di dalam menghambakan diri dan mencintaiNya, beribadah kepadaNya dan ketulusan iba-dah kepadaNya; yang kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberi hidayah kepada mereka untuk semua itu, tentu mereka binasa, ruh, jiwa, hati, dan keadaan mereka menjadi rusak.
Mereka sangat membutuhkanNya di dalam mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui dan amal yang dapat memperbaiki keadaan mereka; yang kalau saja bukan karena Allah mengajarkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan pernah belajar; dan kalau saja bukan karena taufikNya, tentu mereka tidak akan bisa menjadi baik.
Jadi, mereka sangat fakir (butuh) secara dasar kepadaNya dengan segala arti kefakiran; sama saja, apakah mereka menyadari akan sebagian bentuk kefakiran itu ataukah tidak! Akan tetapi orang yang mendapat taufik di antara mereka, yaitu yang selalu merasakan kefakiran (kebutuhan) dirinya dalam setiap keadaan dalam permasalahan dunia dan agamanya, merendahkan diri dan memohon kepadaNya untuk tidak diserahkan kepada dirinya sendiri sekejap mata pun, dan memohon kepadaNya agar diberi pertolongan atas segala urusannya, dan ia merasakan (menyerta-kan) makna seperti ini dalam setiap saat, maka orang seperti ini pantas mendapatkan pertolongan yang sempurna dari Allah se-sembahannya Yang lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu terhadap anaknya.
﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah yang memiliki kekayaan yang sem-purna dari segala sisi. Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya, dan Dia juga sama sekali tidak memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh manusia. Hal itu adalah karena kesempurnaan sifat-sifatNya dan keberadaan se-mua sifat-sifatNya sebagai sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan.
Dan di antara kemahakayaan Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia men-jadikan manusia kaya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Terpuji pada DzatNya, nama-namaNya, karena semua namaNya adalah husna (sangat indah), juga sifat-sifatNya, karena semua sifatNya adalah tinggi (mulia), dan semua perbuatanNya, karena semua perbuatanNya adalah merupakan karunia, kebaikan, keadilan, hikmah dan rahmat; dan juga (Maha Terpuji) dalam semua perin-tah dan semua laranganNya. Maka Dia Maha Terpuji atas apa yang ada di dalamnya dan atas apa yang dikaruniakanNya. Dan Dia Maha Terpuji di dalam kemahakayaanNya dan Dia Mahakaya di dalam keterpujianNya.
(16) ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru." Ada kemungkinan bahwa maknanya adalah jika Dia menghendaki, maka Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan mendatang-kan manusia selain kalian yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dengan demikian, ayat ini mengandung ancaman bagi mereka berupa kebinasaan dan kemusnahan, dan sesungguhnya masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى tidak hanya terbatas pada yang de-mikian saja.
Bisa juga maknanya adalah penetapan kebenaran kebangkitan dan kehidupan kembali, dan bahwa kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku terhadap segala sesuatu dan terhadap penghidupan kembali sete-lah kalian mati menjadi makhluk yang baru. Namun waktunya telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak akan dimajukan dan tidak pula ditunda.
(17) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." Maksudnya, tidak ada halangan bagiNya dan tidak pula ada yang dapat membuatNya lemah.
(18) Makna yang terakhir dikuatkan oleh apa yang disebut-kanNya sesudahnya pada FirmanNya, ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," maksud-nya, pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan diberi pembalasan menurut amal perbuatannya, dan tidak seorang pun menanggung dosa orang lain.
﴾ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ ﴿ "Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu," maksudnya, seorang jiwa yang penuh kesalahan dan dosa meminta pertolongan kepada orang yang mau menanggung sebagian dosa-dosanya, ﴾ لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ ﴿ "tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabat-nya." Dia sama sekali tidak akan menanggung dosa seorang kera-batnya, karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia, di mana seseorang bisa menolong teman dekatnya, seorang sahabat dapat menolong sahabatnya. Bahkan pada di Hari Kiamat nanti, masing-masing orang mendambakan kalau dirinya mempu-nyai hak atas orang lain, sekalipun atas kedua orang tua dan kaum kerabatnya.
﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ ﴿ "Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabb-Nya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka mendirikan shalat." Maksudnya, mereka yang mau mendengar peringatan dan meng-ambil pelajaran darinya, adalah orang-orang yang takut kepada Allah, sekalipun mereka tidak melihatNya; yaitu orang-orang yang takut kepadaNya dalam kondisi sembunyi maupun terlihat orang dan berada di tempat jauh (ghaib), dan mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat dengan segala batasan-batasannya, syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan kekhusyu'an-nya. Sebab, takut kepada Allah mendorong seorang hamba untuk mengerjakan apa-apa yang jika diabaikan akan ditimpa azab, dan jauh dari apa-apa yang jika dilakukan dapat mengakibatkan siksa. Sedangkan shalat itu sendiri mengajak kepada kebaikan dan men-cegah dari yang keji dan mungkar.
﴾ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyucikan di-rinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." Maksudnya, siapa saja yang menyucikan dirinya dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya', sombong, dusta, curang, makar, penipuan, kemunafikan, dan akhlak buruk yang serupa dengannya, dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, seperti jujur, ikhlas, tawadhu' (merendahkan hati), bersikap santun, memberikan nasihat baik kepada orang lain, dan bersih dari rasa dengki, iri dan akhlak-akhlak tercela lainnya, maka se-sungguhnya pembersihan itu, manfaatnya pasti kembali kepada dirinya sendiri dan tujuannya (melakukan itu semua) pasti sampai kepada dirinya, tidak ada sesuatu apa pun dari amalnya yang ter-sia-siakan.
﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah semua akan kembali," lalu Dia akan memberikan balasan kepada segenap manusia atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan memperhitungkan mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, dan Dia sama sekali tidak akan mengabaikan satu perbuatan kecil ataupun besar, melainkan Dia pasti menghitungnya.