Surat ke-34
Saba' · Ayat 30
Ayat 30قُلْ لَّكُمْ مِّيْعَادُ يَوْمٍ لَّا تَسْتَأْخِرُوْنَ عَنْهُ سَاعَةً وَّلَا تَسْتَقْدِمُوْنَ ࣖ
Qul lakum mī‘ādu yaumil lā tasta'khirūna ‘anhu sā‘ataw wa lā tastaqdimūn(a).
Katakanlah: "Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat) yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaatpun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan".
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan, yakni hari Kiamat. Ketika hari itu tiba, kamu tidak dapat meminta penundaan atau percepatannya walau sesaat pun.”
Tafsir Ibnu Katsir
Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:
Katakanlah, "Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat) yang tiada dapat kamu minta mundur darinya barang sesaat pun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan." (Saba':30)
Artinya, bagi kalian telah ada hari yang ditentukan, yang bilangannya telah dicatat, tidak dapat ditambah-tambahi dan tidak dapat pula dikurangi. Apabila hari itu telah tiba, maka tidak dapat ditanggguhkan barang sesaat pun dan tidak dapat pula diajukan. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan. (Nuh:4)
Dan firman Allah Swt.:
Dan kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Huud:104-105)
Tafsir as-Sa'di
"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Dan mereka berkata, 'Kapankah janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Bagimu ada hari yang telah di-janjikan yang tiada dapat kamu minta mundur darinya barang sesaat pun dan tidak pula kamu dapat meminta supaya dimaju-kan." (Saba`: 28-30).
(28) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya tidaklah Dia meng-utus RasulNya, Muhammad a melainkan agar menyampaikan berita gembira kepada seluruh manusia tentang pahala dari Allah dan menyampaikan kepada mereka amal perbuatan yang dapat mengantarkan kepadanya dan memberi peringatan akan azab Allah, lalu mengabarkan tentang amal yang mengantarkan kepadanya. Jadi, kamu sama sekali tidak mempunyai campur tangan dalam urusan tersebut; dan semua yang diusulkan kepadamu oleh kaum yang mendustakan dan keras kepala bukanlah tugasmu.
Itu semua ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui," maksudnya, mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu yang shahih, malah mereka sebenarnya adalah orang-orang bodoh atau orang-orang yang keras kepala yang tidak mau mengamalkan ilmunya, sehingga seakan-akan mereka tidak mempunyai ilmu. Dan di antara tanda mereka tidak mempunyai ilmu adalah Allah menjadikan mereka tidak memperoleh jawaban dari apa yang mereka minta (berupa usulan) kepada Rasul sebagai sesuatu yang mengharuskan mereka untuk menolak dakwahnya.
(29) Di antara hal yang mereka usulkan adalah mereka minta disegerakannya azab yang diperingatkan oleh Rasul ter-hadap mereka. Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kapankah janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?'" Ini adalah kezhaliman mereka. Sebab, kelaziman jenis apa yang membedakan antara kebenarannya dengan informasi tentang waktu terjadinya azab?
Tidaklah ini merupakan sikap menolak kebenaran dan ke-picikan akal? Bukankah seorang pemberi peringatan dalam salah satu urusan dunia, kalau dia membawa (syariat) kepada sekelom-pok manusia (suatu kaum) yang mengenal kejujurannya dan ketulusannya, sedangkan mereka memiliki musuh yang sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk menyerang dan tengah mengadakan persiapan, lalu pemberi peringatan itu berkata kepada mereka, "Aku telah melihat musuh kalian telah berangkat hendak menyerang dan menumpas kalian." Lalu salah seorang di antara kaum itu mengatakan, "Jika Anda benar, maka sampaikanlah ke-pada kami, jam berapa mereka akan sampai kepada kami? Di mana tempat mereka sekarang?" Apakah orang seperti ini bisa dianggap seorang yang berakal atau sudah pantas dicap dungu dan gila? Di sisi lain, orang yang menyampaikan berita memang bisa benar dan bisa dusta, sedangkan musuh bisa jadi telah tampak oleh sebagian mereka sementara tekad mereka telah pupus, padahal bisa jadi kaum itu memiliki pertahanan yang dengannya mereka dapat mempertahankan diri. Lalu bagaimana dengan orang yang men-dustakan manusia yang paling jujur lagi ma'shum (terpelihara dari kesalahan) dalam informasinya, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu tentang azab yang pasti, yang tidak bisa dicegah, tidak ada penolong darinya, tidakkah menolak informasi yang berasal darinya dengan alasan tidak jelas waktu terjadinya adalah meru-pakan kepicikan yang paling parah?
(30) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan memberita-kan mengenai waktu terjadinya Hari Kiamat yang sudah tidak ada keraguan lagi padanya, ﴾ لَّكُم مِّيعَادُ يَوۡمٖ لَّا تَسۡتَـٔۡخِرُونَ عَنۡهُ سَاعَةٗ وَلَا تَسۡتَقۡدِمُونَ ﴿ "Bagimu ada hari yang telah dijanjikan yang tiada dapat kamu minta mundur darinya barang sesaat pun, dan tidak pula kamu dapat meminta supaya dimajukan," maka waspadailah hari itu dan lakukanlah per-siapan untuk menghadapinya.